ASMA & hijab

rasanya kena serangan ASMA pas lagi PAKE HIJAB tuh kayak: udah TENGGELAM diserang PIRANHA pula

images (1)

Yah begitulah rasanya, asal tau aja krudung/jilbab tu terasa buat aku pribadi, MENCEKIK. Nih, sisa-sisa nya setelah bertahun-tahun memaksakan diri untuk taat 100%: sklera mata yg penuh dg pembuluh vena tidak putih jernih karena tekanan di dalam mata saat serangan asma dan sedang memakai kerudung.

download

Iya saya Islam tapi saya tersiksa memakai hijab. It’s not rebellion to my own religion, but some rule abuses me physically.

Lalu saya memilih tidak memakainya. Saya terima kalau saya bukan Islam yg baik, tak apa untuk saya. Saya hanya ingin orang lain pun, orang tua, dan suami dapat menerima kekurangan ini dg lapang. Kalau memang Indonesia berisi orang2 yg membenci orang seperti saya, maka saya ingin sekali tinggal diluar negeri, bahkan bila sulit, mungkin saya akan menikahi agama lain yg tidak memaksakan hijab pd saya. Bunuh sajalah aku bila kamu tak berkenan. Krn sesungguhnya dosa saya biar saya yg tanggung. Dan untuk pasangan, saya memilih pria Islam yg mengatakan agar saya bebas menggunakan style yg saya sanggup, dan tidak memaksa meminta saya berhijab.

Advertisements

Berkhayal di depan Wanita

How to connect your idea about life,…

Finding your partner in crime.

 

Setiap orang punya cara pandang berbeda dalam menilai kecocokan dg pasangannya. Beberapa ada yg hanya mendengarkan pasangannya lalu mencoba menyamakan pikiran atau terdoktrin dg sendiri nya. Beberapa justru memberikan doktrin dg paksaan agar mereka sama. Wanita yg sulit untuk lelaki yg sederhana, adalah wanita yg punya visi pribadi yg harus dia capai, di sisi lain, saat mendengarkan visi pasangannya yg ternyata tak sama. Kesulitannya pada bagaimana sampai kedua visi ini bisa jalan bersamaan atau memutuskan untuk berpisah karena visi yg berbeda.

Untuk ceritaku, mungkin aku tipe wanita sulit itu. Aku bukannya pribadi yg suka dikekang dg peraturan dan kewajiban kuno/adat. Aku menjaga diri dg baik dan mencoba berbuat baik, tapi ada kewajiban kuno yg tidak ingin kulakukan. Dan pemaksaan (pemberian doktrin dari pasangan walaupun terkesan pelan-pelan) membuat satu-satunya jalan adalah pemutusan hubungan. Contoh nya saya yg beragama Islam tapi tersiksa dg kewajiban berkerudung, jd saya hanya dapat mencintai pria yg mendukung style saya untuk tidak berhijab diluar rumah, karena itu hal paling nyaman yg bisa suami berikan untuk saya.

Sebut saja dia wanita metropolitan. Seni dan kebebasan berekspresi sudah menjadi satu dg dirinya. Mungkin ada satu contoh pribadi seperti itu dalam film; Eat, Pray, Love. Dia memang seperti itu jauh dari sebelum adanya film itu. Saya suka jalan menapak kaki menikmati alam dan keindahan, tapi lukisan abstrak seperti Picasso tidak saya sukai, saya juga membuang lukisan-lukisan amatiran yg jelek.

Banyak orang lain yg berjalan di jalur dan arah yg sama, tapi aku selalu tergelitik mencari jalur baru diantara semak dan pagar. Hidupku, tidurku tidak akan tenang sebelum melakukannya dan berhasil mendapatkan kebenaran dari jalur yg aku pilih sendiri. Aku tidak suka menjadi pelanggan setia, karena aku benci jika harus mengobrol dg orang yg aku bayar. Ya, bila aku punya tetangga, aku ingin punya hak untuk tidak menyapa mereka, maka dari itu aku perlu tinggal di lingkungan elite dimana para ibu-ibu tidak bergosip atau saling meminjam/memberikan barang. Saat aku ingin memberi, aku akan mencari fakir miskin/anak yatim piatu. Ya, aku merasakan tangis saat ayah meninggal, merasakan saat orang mengaku mencintai aku tapi menikahi orang lain sehari setelah ku tolak (((padahal itu cuma ujian untuk melihat apakah dia benar-benar tak bisa hidup tanpaku, nyatanya selama aku hidup selalu melihat orang yg mudah berpaling))), merasakan bagaimana mengais rejeki tanpa bantuan orang terdekat, merasakan jadi keset welcome hanya untuk bayaran sesuap nasi, merasakan orang meninggalkan aku saat aku bilang tak punya uang, merasakan harassment/abusement dari coworker/boss yg melihat aku tanpa pelindung (ayah, suami, pacar, kekayaan). Seperti itulah orang yg seharusnya dibantu.

Ini bukanlah keinginan kekanakannya. Ini adalah dirinya. Dunia ini yg menciptakan dirinya menjadi seseorang. Orang tua yg satu meninggal dan satunya lagi yg abusive, saudara yg selalu merasa iri hingga tak ingin membantu, teman yg mengintip isi tabunganku, pacar yg melihatku sebagai calon pencari nafkah keluarga, atasan yg memperlakukan aku seperti babu murahan, calon suami yg terus mencari cadangan wanita kaya yg bisa dipilih, mereka menjadi andil bagaimana aku memilih untuk percaya kepada siapa dan nyaman bersama siapa. Mereka yg membuat aku saat menonton drama dg happy ending jadi menangis.

 

Jadi lelaki, berkhayal lah di depan wanita. Dan kejarlah visi mu sesuai kemauanmu. Lihatlah, apa dia punya khayalan yg sama atau berbeda. Perpisahan karena berbeda adalah kebenaran. Karena dg menyamakan perbedaan maka akan menyakiti lebih dari satu org. Itu dzolim.

Ini adalah aku. Bukan untuk dikomentari. Hanya untuk di mengerti.

MOUNT ALVERNIA

MINDFUL LIVING

 

It is true that our minds can take us places, but a wandering mind can take a toll on our happiness. A Harvard study has shown we are happiest when we are more present and aware of what we are doing and of our surroundings. In other words, when we are more mindful. This article will take you through some tips to live more mindfully at work and home.

WHAT IS MINDFUL LIVING

Being mindful is essentially being more aware of what is happening around us and in our bodies. In a fast-paced society like Singapore, our minds tend to hop from one thing to another, making it difficult for us to be present in the moment.

This state of mindlessness happens more often than we know. According to Harvard researcher Matt Killingsworth, an average person’s mind is wandering 47 per cent most of the day. By embarking on mindful living, we break the state of mindlessness. We do so by being more conscious in what we are doing, being more in the moment, and being nonjudgmental.

BE MORE CONSCIOUS

Being mindful means that we should be deliberate and on purpose when doing something. Often when we are working or performing a mundane task, we switch off and just go through the motions.

We all have those moments when we travel from home to work and not remember what happened during our commute, or when we finish a bowl of chips without even realising it. Switching to ‘autopilot’ gets the work done, but studies show that we also become more prone to stress, anxiety, and negative emotions.

Instead of letting your mind go to sleep, place your attention on one thing. During meal times, for instance, we can consume our food slowly and focus on the different flavours on our taste buds, or when we are typing in the office, we can pay attention to our breathing.

BE IN THE MOMENT

The hyperconnected society we are living in today is all about being current, but ironically it makes it more difficult for us to live in the moment. With so much information presented to us, our minds tend to get tangled up in replaying the past and projecting the future. Rarely can we be fully present in the moment.

Mindful living, on the other hand, encourages us to engage in the present time, here and now. By doing so, we let go of the anxiety of having to do more or to want more. Instead we accept the present as it is.

Our daily routine can be turned into mindfulness practice. While we are waiting for our trains or buses, for example, instead of thinking about our upcoming meeting or exams, we can direct our minds to focus on the smell, sound, and sight around us. Not only will our minds feel more rested when we arrive at our destinations, we may also learn new things about our neighbourhood. An even easier way to be present in the moment is to put away our phones.

By putting away our phones during a meal with friends or loved ones, we would be able to give our full attention to the conversation and the people we are with. This practice may seem like a small gesture, but as it turns out, what makes people happy have less to do with what they are doing and more to do with whether they are fully present in the moment.

BE NONJUDGMENTAL

The practice to enhance our consciousness and be able to be in the moment, culminates in our ability to let go of emotions and unnecessary thoughts. This does not mean that we suppress or control our emotions and thoughts. Being mindful means being able to acknowledge those emotions and thoughts without judging or labelling them so as not to get caught up in them. As a result, we can have clearer, more focused thinking which can improve efficiency at work and at home. Mindfulness also helps to boost our confidence and emotional resilience. Keeping a journal would be helpful to our effort to be more mindful. Write down three priorities for the day. Throughout the day when we feel that our mind is getting more cluttered, we can remind ourselves of the priorities set for the day and focus on them. The journal would also come in handy when we experience strong emotions. Writing them down is a good way to acknowledge the feeling and to remind ourselves not to dwell on them. The practice to attain mindful living is closely associated with meditation. But, we do not have to master meditation to be more mindful of ourselves and our surroundings. If we put our minds to it, daily routines like waiting for the bus or eating our lunches too can be made into practices of mindful living.

This article is taken from our My Alvernia Magazine Issue #31. Click here to read the issue on our website or on Magzter

IMG_20171031_131154

 

Dr. Tjipto Mangunkusumo

*Dr. Tjipto Mangunkusumo*

Ada ungkapan terkenal di kalangan masyarakat yang sudah kenal Rumah Sakit : ‘Dokter atau Perawat belon jago kalo bukan keluaran RSCM’. Mau tidak mau RSCM memang Lembah Tidarnya para dokter dan perawat digembleng untuk merawat orang sakit.

Dulu RSCM bernama Centraal Burgerlijke Ziekenhuis atau CBZ. Orang Djakarta tempo dulu selalu menyebut CBZ- diucapkannya Sebeset. Kakek saya saja selalu bilang “Naar CBZ” kalo mau ke RSCM. Barulah generasi ibu saya menyebut Rumah Sakit itu RSCM atau RSUP (Rumah Sakit Umum Pusat). Kenapa CBZ begitu hebat, apakah ada hubungannya antara CBZ dan nama Cipto. Bagi saya nama Cipto yang diberikan pada 17 Agustus 1964 oleh pemerintahan Sukarno atas usulan Menteri Kesehatan saat itu Dokter Satrio bukan tanpa sebab.

Suatu sore di bulan Maret 1963 Bung Karno memanggil tim dokter CBZ untuk bertanya tentang nama Rumah Sakit itu. Di teras Istana Negara mereka bicara ngalor ngidul tentang RS, Bung Karno berkata “Aku ingin Rumah Sakit ini, menjadi Rumah Sakit Rakyat, dia harus melayani rakyat secara penuh dan total. Rakyat harus dibebaskan dari biaya-biaya atau minimal sedikit biaya untuk berobat. Dan untuk itu nama kebelanda-belandaan, bukanlah nama yang baik. Aku bertanya kepada kalian nama apa yang cocok untuk Rumah Sakit ini” lalu dokter Satrio nyeletuk “Bagaimana kalau kita namakan Rumah Sakit Tjiptomangunkusumo saja Pak ???” Bung Karno terdiam matanya langsung berkaca-kaca. Tak lama kemudian air mata pelan mengalir ke pipinya. “Aku ingat Onze Tjip…Aku ingat Onze Tjip…”

Tjiptomangunkusumo lahir dari keluarga jelata. Ayahnya sesungguhnya anak petani namun karena kecerdasannya dia mampu menjadi guru HIS. Tjip, ditakdir memang hidup menembus kelas-kelas sosial. Ia yang hanya anak guru mampu masuk sekolah STOVIA. Ini sekolah elite jaman dulu yang belajar tentang bidang kedokteran. Usia masuk Stovia dulu adalah berkisar 12-16 tahun. Jadi mereka diajarkan dari yang paling dasar sekali tentang bidang pengobatan dengan alat ajar yang minim. Tapi memang Indonesia selalu melahirkan generasi yang cerdas. Tjip salah satunya. Ia merasa dirinya adalah anak si Kromo, dan sedari awal ia sudah menentang sikap kepriyayi-priyayian yang merupakan penghalang pencerdasan bagi rakyat.

Saat itu kepala sekolah memerintahkan setiap murid mengenakan pakaian adat. Hal ini untuk dimaksud agar membedakan diri mereka satu sama lain. Tapi Tjip menolak ia hanya pakai, pakaian dekil, kumal, pakaian anak Jawa jelata, pakaian tukang angon wedhus -anak gembala kambing- saat seorang gurunya mengusir Tjip keluar karena memakai pakaian proletar, kepala sekolahnya melarang dan berteriak pada guru itu :”Tjip, een begaafd leerling,” – Hei, Tjip itu salah seorang yang berbakat. Sejak itu Tjip boleh bebas mengenakan pakaian si Kromo.

Tjip dengan cepat menyelesaikan sekolah kedokteran. Tak lama kemudian ia mendengar juniornya mengadakan kongres Budi Utomo. Tjip tau ini dari adiknya Gunawan Mangunkusumo yang teman akrab Sutomo, penggagas Budi Utomo. Disana Tjip diundang bicara pada salah satu sesi kongres. Di depan kongres dia berkata “Saudara-saudara organisasi ini bukan organisasi orang Jawa, bukan kumpulannya para priyayi, saya menghendaki organisasi ini jadi tempat berkesadarannya rakyat Jawa dan juga seluruh Hindia Belanda” ucapan itu diucapkan tahun 1908. Bila Budi Utomo dirujuk sebagai Tahun Kebangkitan Nasional maka sangat tidak tepat bila tidak mengikuti ucapan Tjip tentang nasionalisme. Ucapan ini ditentang oleh banyak peserta kongres termasuk Radjiman Wediodiningrat. Radjiman meminta agar Kongres Budi Utomo merupakan buah kesadaran priyayi saja tidak masuk ke dalam rakyat kecil. Tjip menggebrak meja saat Radjiman bicara itu dan berteriak dalam bahasa Jawa Ngoko “Aku Keluar !!!”… dan ini membuat kaget banyak orang.

Tak lama dari Budi Utomo, Tjip buka praktek di Solo. Disana dia langsung terkenal sebagai dokter rakyat. Ia sendiri masuk ke kampung-kampung naik sepeda. Ia mengobati rakyat kecil dan tidak usah membayar. Rakyat mengenalnya sebagai ‘wong pinter’ dulu dokter belum banyak, Tjip disangka dukun tapi ia mengenakan alat-alat kedokteran macam stetoskop. Sore hari Tjip senang jalan-jalan ke alun-alun. Ia kadang2 menggunakan bendi-nya. Ia sengaja meledek peraturan yang bendi tidak boleh lewat depan keraton. Suatu saat bendinya lewat keraton Sunan Pakubuwono X sedang duduk-duduk, Sang Sunan langsung berdiri :”Siapa itu naik bendi” abdi dalemnya menjawab “Dokter Tjip, sinuwun”…Sunan langsung menggerutu “Woo Kurang ajar” tapi Sunan tidak mau berbuat apa-apa ia tau Tjip ini orang pintar dan Sunan suka dengan orang2 pintar ia kerap menyekolahkan abdi dalemnya untuk sekolah ke Batavia termasuk Purbatjaraka yang kelak jadi ahli bahasa Jawa kuno.

Suatu pagi di rumahnya, Tjip membaca koran tentang wabah pes di Malang. Saat itu wabah pes sangat luar biasa. Penyakit ini disebabkan kutu tikus saat itu wabah ini susah ditangani karena sarana kesehatan dan alat kedokteran yang minim. Cara tradisional adalah membakar orang yang mati kena Pes dan juga membakar rumahnya. Tjip datang ke Malang dan ia mendengar tidak ada satu pun dokter yang berani ke Malang. Ia sendirian menantang maut. Orang yang terkena air liur dari penderita akan ketularan, Tjip berani bekerja tanpa masker. Suatu saat ia mendengar ada anak yang sakit parah dan ibunya sudah mati rumahnya di bakar. Tjip langsung membongkar rumah dan mencegah membakar, ia menggendong anak itu tanpa rasa takut dan dengan telaten mengobatinya. Tjip berhasil. Anak itu sudah yatim piatu dan kedua orang tuanya meninggal karena Pes. Tjip mengangkat anak ini dan memberi nama menjadi Pesyati. Sepanjang hidup Pesyati-lah yang merawat Tjip, Tuhan selalu memberikan hadiah perbuatan baik dibalas jauh lebih baik. Atas keberaniannya Tjip dihadiahi oleh pemerintah Belanda bintang jasa tertinggi yang bernama “Orde Van Oranje Nassau” atau kerap disebut “Ridderorde”. Awalnya Tjip menerima tapi setelah ia tau ternyata Pemerintah hanya bisa omong doang, Tjip menaruh bintang jasa itu di pantatnya dengan bintang jasa di pantat ia ke Batavia wartawan banyak memotret dan membuat headline olok-olok untuk pemerintah “Seorang Jawa berani taruh hadiah raja di pantatnya” Pemerintah jelas marah, tapi tidak ambil tindakan.

Tahun 1913 Tjip bersama Douwes Dekker dan Suwardi Surjaningrat (kelak bernama Ki Hadjar Dewantoro) mendirikan partai paling progresif “Indische Partij”. Partai ini menjadi corong kuat melawan pemerintah Hindia Belanda. Tjip sendiri masuk jadi wartawan harian ‘De Express’ dan Majalah Tijdschrift milik Douwes Dekker. Suatu hari Suwardi menulis essay “andai aku orang belanda’ sebuah essay satir yang bikin panas pemerintah Hindia Belanda. Saat itu Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pungutan besar-besaran bahwa mereka akan mengadakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda atas Spanyol. Ini sebuah ironi bagaimana bisa sebuah bangsa yang terjajah kok membuat sebuah perayaan yang justru dibiayai oleh penderitaan bangsa yang dijajah. Komite Perayaan Belanda dibuat tandingannya maka berkumpullah Tjipto, Douwes Dekker, Abdul Muis dari Sarekat Islam Medan dan wignjadisastra. Komite ini disebut ‘Komite Tandingan’ atas perayaan kemerdekaan yang ironis itu. Mereka memang merayakan kemerdekaan Belanda tapi akan memakai baju gembel, dan akan membawa gerobak berupa meja yang diselimuti kain hijau sebagai pralambang untuk ‘tuntutan bumiputera berparlemen’. Kaum Bumiputera harus ada perwakilannya di pemerintahan.

Keruan saja aksi komite tandingan ini buat marah pemerintah. Tjip cs ditangkapi saat digiring ke penjara Tjip berteriak “Ayo kita nyanyikan lagu kebangsaan Republik Transvaal” teriak Tjip (Republik Traansvaal, adalah salah satu wilayah di Afrika Selatan yang kemudian menjadi merdeka dari pemerintahan Belanda- kemerdekaan Transvaal ini kerap menginspirasi perjuangan rakyat Indonesia di tahun belasan). Muis teriak “aku tak bisa nyanyi” .
“Sudah kamu ikutin saja” kata Tjip sambil bersemangat menyanyi.

Tjipto menikah dengan anak patih, tapi kemudian bercerai. Ia kemudian menikahi seorang wanita Belanda bernama Nyonya Vogel. Keponakan Nyonya Vogel ini Donald dan Luis diangkat jadi anak Tjipto. Tiga anak : Donald, Luis dan Pesyati akan ikut Tjip. Setelah keliling di beberapa tempat, Tjip tinggal di Bandung ia bekerja untuk rakyat, ia menuliskan plang di depan rumahnya ‘Dokter Tjipto, dokter partikelir’. Rumahnya di Bandung ini tepatnya terletak di Tegallega. Pada tahun 1920, Tjip sering kedatangan tamu. Anak muda tampan dan berwajah sangat enak dilihat. Anak muda itu bernama Sukarno. Tjip tau anak ini adalah anak didik Tjokro. Sukarno pada awalnya berpandangan bahwa kemerdekaan bisa dilakukan dengan ide ‘Pan Islamisme’, Tjipto-lah yang menyadarkan Bung Karno. “Bangsa-bangsa sekarang berdiri didasarkan satu imajinasi, satu gagasan besar yaitu : Negara-Bangsa. Apa itu negara-bangsa, negara-bangsa itu kesadaran bersama satu masyarakat yang tinggal di daerah tertentu memiliki satu bahasa, satu pemerintahan dan satu tujuan. Kemerdekaan harus ditujukan pada ‘bangsa’ dan bukan ‘agama’.

Tahun 1923 saat PKI mengadakan kongres. Foto Tjip terpampang bersama Karl Marx, Lenin dan Tan Malaka. Ini merupakan penghormatan besar PKI terhadap Tjip. Walaupun Tjip tidak pernah masuk jadi anggota PKI. Namun gara2 itu ia kena getahnya saat pemberontakan PKI 1926/1927, Tjip dituduh terlibat dan menghasut karena pernah memberikan dana 10 gulden kepada salah seorang kopral KNIL, ternyata Kopral KNIL itu bersama kawan-kawannya mau meledakkan gudang amunisi di Bandung. Tjip langsung diinterogasi, ditemukan daftar tamu2nya yang kebanyakan juga terlibat pemberontakan PKI. Gubernur Jenderal De jonge kalap luar biasa dan memerintahkan Tjip dibuang ke Banda Neira. Buru-buru kawan Tjip yang bernama Koch datang dan menanyakan pada Tjip :”Tjip, verteel me nou de waarheid” kata Koch sambil mengguncang bahu Tjip -Tjip katakan terus terang”. Tapi Tjip tenang2 saja.

Tjip diantarkan ke stasiun tengah malam, namun Bung Karno sudah menunggu. Bung Karno adalah satu-satunya orang politik yang mengantarkan Tjip. Ia menciumi tangan Tjip sembari menangis. Tjip memegang bahu Bung Karno dan berkata “Ingat, No. Nasionalisme bukan Pan Islamisme” kata Tjip sambil menepuk-nepuk bahu Sukarno. Bung Karno yang saat itu baru saja mendirikan Partai Nasional Indonesia terus memegangi bahu Tjip.

Tjip berangkat dengan keluarganya ke Banda Neira. Disana ia diawasi oleh Tuan W. C Ten Cate. Tuan Cate ini agak keterlaluan mengawasi Tjip. Setiap hari ia datang dan menggeledah rumah Tjip sampe-sampe telur pun diperiksa. Saat penggeledahan Tjip, Isterinya, Donald, Luis dan Pesjati diperintah naik ke peti. Mereka berdiri dipojokan dan melihat Belanda itu membongkar barang2 mereka, kegiatan itu berlangsung hampir tiap pagi. Tapi kemanusiaan selalu menemukan jalan pertemanan.Tuan Cate ini malah jadi sahabat Tjip. Mereka setiap hari pagi dan sore duduk di pantai dan bicara banyak.

Kesehatan Tjip memburuk. Setiap waktu mendengar kabar buruk tentang pergerakan nasional ia langsung sakit. Saat tau Sukarno ditahan dan banyak aktivis ditangkapin Tjip menangis sendirian di kamarnya. Donald dan Luis takut saja “Oom Tjip selalu begitu, bila mendengar kabar buruk perdjoangan di Djawa” kata Donald dalam salah satu memoarnya tentang Tjip. Andai tak datang Sjahrir dan Hatta ke Banda mungkin Tjip sudah lama mati. Ia tidak ada teman bicara. Hatta dan Sjahrir memperpanjang usia Tjip karena ada teman bicara yang seimbang.

Saat Djepang masuk Tjip dibawa pulang ke Djakarta. Awalnya ia mau diangkut ke Australia tapi dia menolak “Bila rakyat Indonesia hancur oleh Djepang, biarlah aku mati bersamanya” pesan Tjip pada perwira Belanda yang akan mengirim Tjip ke Australia. Tjip yang sakit paru-paru itu dengan pipi peot dan lubang (dekok) yang dalam antara jidat di dekat batang hidungnya makin besar. Tapi Tjip berusaha gembira ia berbicara filsafat dengan rasa senang.

Setelah sampai di Djawa awalnya Tjip dibawa ke Sukabumi karena disana udaranya bersih, tapi kesehatan Tjip menurun. Dia kemudian dibawa ke Djakarta. Disana ia sering berteriak kesakitan saat itu di Jaman Jepang obat sangat langka sekali. Tjip berteriak minta disuntik adrenalin, tapi Donald dan Bu Tjip tidak punya uang. Luis sampai menangis di depan teras rumah mendengar Oom-nya berteriak kesakitan. Donald akhirnya bersama Pesjati nekat memberikan ampul berisi air untuk menyuntik Tjip sebagai sugesti. Akhirnya seorang dokter yang bernama dokter Loe Ping Kian, menyarankan donald untuk membawa Oom-nya ke Rumah Sakit Jang Seng Ie (Sekarang Rumah Sakit Husada di Jalan Mangga Besar). Dokter Tjip tak kuat menahan sakit disana dan ia wafat dalam keadaan sengsara. Donald, Luis, Pesjati dan Bu Tjip menangis meraung-raung.

Itulah kisah Dokter Ciptomangunkusumo, penggagas Indonesia Raya, orang yang menyadarkan Bung Karno tentang arti sebuah bangsa. Dia rela hidup susah demi rakyat. Apabila ada dokter sekarang yang memeras pasien dengan obat mahal padahal ada obat murah, yang mempermainkan pasien, pasien masuk Rumah Sakit sampai jual harta benda tapi dokternya gonta ganti mobil. Lihatlah pada kisah Dokter Tjip ini. Seorang dokter adalah pejuang kemanusiaan, bukan pejuang harta benda. Bila dokter bersikap materialistis dalam melaksanakan tugasnya. percayalah dia adalah sampah masyarakat.

Pada dr. Tjipto kita banyak belajar…

Astrological Summary of Chval Sakura

Chval Sakura is born on Wednesday 18 January 1989 in the month of the Western Zodiac ‘Capricorn’ and in the year of the Chinese Animal ‘Dragon’ and has Celtic Tree symbol Elm and Birth stone Garnet

Source: Astrological Summary of Amara

Time

This is not our ending, neither our beginning. Time goes on.

Tuhan yg Maha Pemurah telah menyembuhkan luka hatiku lagi hari ini. Karena hari ini dia memanjakanku seperti seharusnya dunia yg sedang berkasih. Nonton horror movie berdua dg semua traktirannya, ngajak pergi di tiap malam sulit tidur hanya muterin motor CKRG-BKS (ternyata kita senang cari angin malam), kamu yg mengerti puisi autis ku dan aku yg senang kesabaranmu, ajakan bermesraan ke puncak, do’a bersama ditemani tatapan kasihmu, genggaman tangan dg sentuhan yg mesra, moment di taman yg indah, dan semua hal yg aku sukai yg benar² pertama aku lakukan yg tak pernah diberikan orang lain untukku. Semua yg dia lakukan adalah anugerah buatku.

Janjiku untuk ini, akan ku jaga juga hati nya. Aku tak akan pergi, tak akan lari, tak akan menyakiti dia. Dan aku tahu dia sejalan denganku, bahwa kenyataan adalah yg terbaik.

Semua akan baik-baik saja bersamamu. Karena kamu menerima aku yg bukan siapa-siapa. Kamu yg mengenal ocehanku. Kita yg sama-sama polos tertipu oleh Dunia.