2.1. SALPINGITIS
Salpingitis adalah inflamasi pada tuba fallopi (Medikal Disabiliti Advisor). Saat terjadi inflamasi, sekresi berlebih beserta pus terkumpul dalam tuba. Infeksi biasanya berasal dari organisme asal vagina itu sendiri yang kemudian naik ke tuba. Jenis perkembangannya yaitu :
a. Salpingitis akut : suatu infeksi tuba fallopii yang dapat gonorea atau piogenik
b. Salpingitis kronis : stadium infeksi tuba fallopii setelah stadium subakut. Tipe ini dapat timbul dalam empat bentuk: piosalping, hidrosalping, salpingitis interstisialis kronis atau salpingitis ismika nodosa (Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi).
Jika tidak ditanggulangi secara benar, infeksi dapat membuat kerusakan permanen sehingga menghalangi pembuahan, maka dari itu Salpingitis adalah kasus yang paling sering menyebabkan infertilitas. Salpingitis biasanya disebut pelvic inflammatory disease (PID).
Salpingitis dapat terjadi dalam trimester pertama kehamilan, akibat migrasi bakteri ke atas dari serviks hingga mencapai endosalping. Begitu terjadi penyatuan korion dengan desidua sehingga menyumbat total kavum uteri dalam trimester kedua, lintasan untuk penyebaran bakteri yang asenderen ini melalui mukosa uterus akan terputus. Dengan demikian inflamasi akut primer pada tuba dan ovarium jarang terjadi sekalipun abses tubo-ovarium dapat terbentuk dalam struktur yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan itu.

2.1.1 Salpingitis Akut
Salpingitis (biasanya bilateral) menjalar ke ovarium hingga juga terjadi oophoritis. Salpingitis dan oophoritis diberi nama adnexitis. Salpingitis akut, tuba menjadi merah dan bengkak dan sekretnya banyak hingga dinding dalam tuba dapat menempel jadi satu. Paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh staphylococus, streptococus dan bakteri TBC.
Infeksi dapat terjadi sebagai berikut :
1. Naik dari cavum uteri
2. Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari appendiks yang meradang
3. Haematogen terutama salpingitis tuberculosa

2.1.2 Salpingitis Kronis
Salpingitis kronis biasanya berasal dari salpingitis akut. Salpingitis kronik apabila infeksi sudah berat/meluas, bertahan lama dan mungkin saja gejala sudah terasa tidak mengganggu. Pada salah satu dari dua kasus tubo-ovarium yang menjadi komplikasi dalam pertengahan kehamilan dan di rawat di RS dilakukan histerektomi di samping salpingo-ooforektomi bilateral. Pasien dapat disembuhkan setelah menjalani proses kesembuhan pasca bedah yang sangat rumit. Walaupun terjadi perlekatan yang luas dalam rongga panggul akibat infeksi pelvis sebelumnya, pasien biasanya tidak mengalami efek yang berarti selama kehamilannya.

2.2. TANDA DAN GEJALA
Kasus salpingitis yang ringan mungkin tidak ada gejala. Saat gejala muncul, biasanya muncul setelah periode menstruasi. Gejala yang biasa muncul adalah:
– Suhu tubuh tinggi
– Nyeri kiri dan kanan di perut bagian bawah terutama kalau ditekan
– Mual dan muntah, ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum
– Toucher: nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan dari uterus, kadang-kadang ada penebalan dari tuba, tuba yang sehat tidak dapat diraba.
– Nyeri saat menstruasi
– Nyeri saat coitus
– Secret purulen di ostium serviks pada pemeriksaan inspekulo

2.3. PATOFISIOLOGI
Infeksi dapat menyebar ke bagian lain lewat kelenjar limfe. Organisme penyebab infeksi ini diperkirakan mencapai tuba falopii dan ovarium yang sebelumnya sudah cidera tersebut lewat cairan limfe atau darah. Pada salah satu dari dua kasus tubo-ovarium yang menjadi komplikasi dalam pertengahan kehamilan dan dirawat di RS dilakukan histerektomi di samping salpingo-ooforektomi bilateral. Pasien yang menderita salpingitis periodik akan timbul kerusakan tuba yang irreversible sehingga menyebabkan hidrosalping, piosalping atau abses tubo ovarium. Waktu yang terbaik untuk pembedahan adalah saat proses inflamasi menghilang secara maksimal diantara rekurensi. Pasien dapat disembuhkan setelah menjalani proses kesembuhan pasca bedah yang sangat rumit. Walaupun terjadi perlekatan yang luas dalam rongga panggul akibat infeksi pelvis sebelumnya, pasien biasanya tidak mengalami efek yang berarti selama kehamilannya.

2.4. PENYEBAB
2.4.1 Faktor Resiko
Resiko pada wanita yang tidak menikah, hubungan seks di usia muda dan punya lebih dari satu pasangan. Infeksi dapat mencapai tuba bila aliran menstruasi berbalik atau terbukanya serviks saat menstruasi.
Faktor lain termasuk prosedur pembedahan dimana melewati serviks, misal:
– endometrial biopsy
– curettage
– hysteroscopy
Resiko lain terjadi jika suatu faktor dalam vagina dan serviks yang menyebabkan organisme penginfeksi “bermigrasi” naik ke tuba, misalnya:
– pemberian antibiotik (lokal)
– ovulasi
– menstruasi
– penyakit menular seks (PMS)/sexually transmitted disease (STD)
Terakhir, dari hubungan seks dapat memfasilitasi penyebaran penyakit dari vagina menuju tuba, yaitu:
– Kontraksi uterus
– Sperma, ikut membawa agen ke arah tuba.

2.4.2 Spesies Bakteri
Bakteri yang biasa ditemukan pada infeksi salpingitis adalah:
– Neiserria Gonorrhoeae (30-50 %)
– Chlamydia trachomatis
– Mycoplasma
– Staphylococcus
– Streptococcus
Bagaimana pun juga biasanya tidak hanya satu agen yang berperan dalam salpingitis. Contoh lain organisme yang berkembang menjadi agen penginfeksi pada tuba adalah:
– Ureaplasma urealyticum
– Bakteri anaerobik dan aerobic (Wikipedia)

2.5. EPIDEMIOLOGI
Dari wanita usia 15 – 44 tahun, 0,29 per 100.000 pasien meninggal karena salpingitis. Kejadian salpingitis terbanyak pada wanita dengan sosial ekonomi rendah. Kasus yang dilaporkan wanita yang terkena saat berkembang menjadi salpingitis kronik dengan komplikasi.
Salpingitis mempengaruhi 11% wanita usia subur. Pengaruh yang besar pada hubungan seks di usia muda, banyak pasangan dan gaya hidup tidak sehat dari pada faktor lain yang menyebabkan salpingitis. Menjadi prevalensi tertinggi pada usia 15 – 24 tahun. Kurangnya pengetahuan dengan gejala yang timbul dan keinginan menggunakan kontrasepsi meningkatkan kejadian yang timbul.
Dalam satu periode salpingitis resiko infertilitasnya 8 – 17 %, sedangkan dengan tiga periode salpingitis memiliki resiko infertil 40 – 60 % walau tergantung pula dengan derajat keparahan penyakit. Rusaknya tuba meningkatkan resiko ektopik, sekali terkena salpingitis 7 – 10 kali kejadian hamil ektopik. Setengah dari kejadian ektopik dikarenakan infeksi salpingitis.

2.6. KOMPLIKASI
Pasien yang menderita salpingitis periodik akan timbul kerusakan tuba yang irreversible sehingga menyebabkan hidrosalping, piosalping atau abses tubo ovarium. Meliputi ooforitis, peritonitis, abses tuboovarium, tromboflebitis septic, limfangitis, selulitis, perihepatitis dan abses didalam ligamentum latum.
Sebagian besar kasus dapat terjadi ruptur tuba hingga terjadi penumpukan abses atau peradangan pada kavum abdomen. Peradangan peritoneum dapat terjadi karena peradangan serosa akibat dari penyebaran infeksi subepitel endosalping atau penyebaran infeksi langsung ke peritoneum melalui ujung fimbria tuba yang terbuka. Struktur-struktur pelvis yang berdekatan seperti ovarium atau usus besar dapat terkena pada reaksi peradangan. Infertilitas dimasa depan dan kehamilan ektopik dapat merupakan akibat dari kerusakan tuba.
Berikut kejadian-kejadian yang dapat dipengaruhi oleh salpingitis adalah:
– Infeksi menjalar ke ovarium atau uterus
– Menulari pasangan
– Abses didalam ovarium
– Kahamilan ektopik
– Infertilitas

2.7. DIAGNOSIS
Pemeriksaan fisik ditentukan dengan pemeriksaan abdomen apakah terdapat tanda-tanda peritonitis termasuk defans muskular, nyeri langsung, nyeri alih, dan nyeri lepas, tanda psoas positif dan nyeri pada sudut kostovertebral dengan cara palpasi bimanual rectal vaginal, gerakan serviks ke satu sisi atau sisi lain pada palpasi serviks. Tentukan adanya massa atau penebalan adneksa. Jika ada massa lakukan USG, pasien diperiksa untuk tubo-ovarium.
Berikut pemeriksaan-pemeriksaan yang dapat menegakkan diagnosis salpingitis:
1. Pemeriksaan umum
– Suhu biasanya meningkat
– Tekanan darah normal
– Denyut nadi cepat
2. Pemeriksaan abdomen
– Nyeri perut bawah
– Nyeri lepas
– Rigiditas otot
– Bising usus menurun
– Distensi abdomen
3. Pemeriksaan inspekulo
– Tampak sekret purulen di ostium serviks
4. Pemeriksaan laboratorium
– Leukosit cenderung meningkat pada hasil cek darah
– Bakteri jenis penginfeksi diketahui pada sapuan mukosa

2.7.1 Diagnosis Banding
Kondisi umum pelvis yang sering terlupakan untuk salpingitis akut adalah kehamilan ektopik, apendistis akut, dan diverticulitis (diagnosis lain yang perlu dipertimbangkan meliputi endometriosis, kista overium, enteritis regional dan leiomioma uteri).
Kehamilan ektopik harus dicurigai bila terdapat riwayat amenore, oligomenore, atau gejala-gejala kehamilan terutama bila suhu dan hitung leukosit tidak menunjukkan peningkatan yang bermakna. Kuldosentesis dapat menyingkap adanya darah yang tidak membeku.
Apendisitis perlu dipertimbangkan bila nyeri terlokalisir pada kuadran kanan bawah (terutama titik McBurney). Pada apendisitis, rangkaian gejala awalnya yang klasik yaitu nyeri periumbilikalis, diikuti oleh anoreksia, nausea atau vomitus atau keduanya, dan pergeseran rasa nyeri ke kuadran kanan bawah. Titik nyeri di atas apendiks akan lebih nyeri pada pergerakan serviks. Demam ringan dan leukositosis moderat merupakan gejala penyerta; hitung leukosit dan suhu sering lebih rendah dari yang didapat pada salpingitis akut. (catatan : bila dilakukan laparatomi karena dicurigai apendistis dan ditemukan salpingitis tanpa komplikasi, tuba tidak dibenarkan diangkat atau diinsisi).
Diverticulitis dapat sulit dibedakan dari salpingitis sisi kiri. Serangan khas diverticulitis ditandai dengan nyeri pada kuadran kiri bawah, menggigil, demam dan tanda-tanda peritoneum (peritoneal signs). Masa yang nyeri dapat terpalpasi di atas sigmoid. Pasien dapat memberikan riwayat serangan diverticulitis.

2.7.2 Data Diagnostik Tambahan
1. Pewarnaan gram endoserviks dan biakan: diplokokus gram negative intraseluler pada apusan pewarnaan gram baik dari cairan serviks ataupun suatu AKDR dari pasien dengan salpingitis simptomatik merupakan penyokong adanya infeksi Neisseria yang memerlukan pengobatan. Biakan bakteriologi diperlukan untuk identifikasi positif Neisseria gonorrhoeae. Pewarnaan gram dan biakan (baik aerob maupun anaerob) dari cairan peritoneum dapat memberikan diagnosis bakteriologik yang akurat.
2. Kecepatan sedimentasi eritrosit sering meningkat. Tes ini terutama bermanfaat dalam diagnosis banding apendistis atau kehamilan ektopik yang rupture, karena kecepatan sedimentasi jarang meningkat pada kasus kehamilan ektopik atau dalam 12 jam pertama apendistis akut.
3. Tes kehamilan negative. Apabila tes kehamilan positif, kemungkinan kehamilan ektopik harus disingkirkan.
4. Kuldosentesis akan mneyingkirkan hemiperitoneum apabila cairan yang diaspirasi non-hemoragik.
5. Foto abdomen (tiga posisi: telentang, tegak dan lateral) dapat membantu bila dicurigai ada benda asing, cairan intraperitoneum atau organisme penghasil gas. Pada apendistis akut, penemuan pada foto abdomen biasanya tidak spesifik. Tanda-tanda yang dapat mengesankan adanya apendistis meliputi:
a. Skoliosis spina lumbosakral yang menjauh dari kuadran kanan bawah karena spasme muskulus psoas
b. Air-fluid level di dalam sekum (ileus local)
c. Fekalit terklasifikasi (apendikolit) pada kuadran kanan bawah, dan
d. Hilangnya bayangan psoas dan flank stripe pada sisi kanan.
Pada kasus-kasus perforasi viskus berongga, foto datar atau tegak sering menunjukkan adanya udara bebas didalam rongga peritoneum. Visualisasi gas ekstraintestinal memberi kesan adanya abses intraabdomen.
6. Laporoskopi dapat membantu bila diagnosis tidak pasti.

2.8. PENANGANAN
Sebagai Bidan, penanganan terbaik adalah merujuk klien (hamil/tidak hamil) yang mengeluh dengan tanda dan gejala yang mengarah ke Salpingitis. Anjurkan untuk kultur darah dan antibiotik lewat IV jika keadaan memburuk. Untuk menekankan kerusakan permanen pada anatomi dan fisiologi tuba, pasien harus di terapi secepat mungkin dengan antibiotik yang sesuai. Bila terdapat beberapa macam bakteri yang menginfeksi, antibiotik diberikan tidak hanya satu.
Pasangan harus ikut diperiksa agar penyebaran dan pengobatan tuntas. Diskusikan kemungkinan masalah yang terjadi dimasa mendatang seperti infertilitas, kehamilan ektopik, dan pembentukan abses yang berperan untuk mengenal keadaan dan prognosisnya untuk menghindarkan infeksi ulang dan komplikasi.
1. Berobat jalan, jika keadaan umum baik, dengan terapi:
b. Berikan antibiotik
– Cefotaksitim 2 gr IM atau
– Amoksisilin 3 gr peroral atau
– Ampisilin 3,5 gr per os atau
– Prokain ampisilin G dalam aqua 4,8 juta unit IM pada 2 tempat
Masing-masing disertai dengan pemberian Probenesid 1gr per os
Diikuti dengan
– Doksisiklin 100 mg per os dua kali sehari selama 10-14 hari
– Tetrasiklin 500 mg per os 4 kali sehari
(dekoksisilin dan tetrasiklin tidak digunakan untuk ibu hamil)
c. Tirah baring
Selain terapi antimikroba, dianjurkan tirah baring dan obat-obat analgesic. Walaupun pengaruh AKDR pada respon terhadap terapi salpingitis akut dan terhadap resiko salpingitis tidak diketahui, pengangkatan AKDR sering dianjurkan segera setelah terapi antimikroba diberikan. Dianjurkan evaluasi klinik kembali dalam waktu 48-72 jam.
d. Kunjungan ulang 2-3 hari atau jika keadaan memburuk
2. Rawat inap jika terdapat keadaan-keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu
Rawat inap mungkin diperlukan bila pasien tidak memberikan respon yang baik. Setelah terapi berakhir dianjurkan dilakukan biakan serviks dan pemeriksaan pelvis selanjutnya.
Dianjurkan pada keadaan-keadaan berikut :
– Diagnosis tidak pasti dan pembedahan darurat seperti apendistis dan kehamilan ektopik harus disingkirkan
– Dicurigai adanya abses pelvis
– Penyakitnya berat sehingga tidak memungkinkan penanganan rawat jalan
– Pasien hamil
– Pasien tidak mampu mengikuti atau mentoleransiregimen pada waktu berobat jalan
– Pasien tidak memberikan respons terhadap pengobatan rawat jalan.
– Pasien memiliki penyakit-penyakit penyulit medic seperti diabetes atau penyakit katup jantung.
Penanganan termasuk pemberian antibiotik, analgesik, cairan dan bed rest. Salpingitis yang tidak ditindaklanjuti akan berkembang menjadi pelvic inflammatory disease (PID). Waktu yang terbaik untuk pembedahan adalah saat proses inflamasi menghilang secara maksimal diantara rekurensi.
Setelah dilakukan salpingektomi penting untuk menggunakan drain atau bisa juga membuang tuba yang rusak. Kadang uterus dan ovarium juga dibuang (hysterectomy dengan salpingo-oophorectomy). Laparoskopi hanya jika menginginkan pembedahan kecil. Juga dikenal dengan “band-aid surgery” karena hanya insisi kecil yang kemudian dimasukkan alat kecil untuk melihat isi abdomen dan melakukan pembedahan.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s