How to connect your idea about life,…

Finding your partner in crime.

 

Setiap orang punya cara pandang berbeda dalam menilai kecocokan dg pasangannya. Beberapa ada yg hanya mendengarkan pasangannya lalu mencoba menyamakan pikiran atau terdoktrin dg sendiri nya. Beberapa justru memberikan doktrin dg paksaan agar mereka sama. Wanita yg sulit untuk lelaki yg sederhana, adalah wanita yg punya visi pribadi yg harus dia capai, di sisi lain, saat mendengarkan visi pasangannya yg ternyata tak sama. Kesulitannya pada bagaimana sampai kedua visi ini bisa jalan bersamaan atau memutuskan untuk berpisah karena visi yg berbeda.

Untuk ceritaku, mungkin aku tipe wanita sulit itu. Aku bukannya pribadi yg suka dikekang dg peraturan dan kewajiban kuno/adat. Aku menjaga diri dg baik dan mencoba berbuat baik, tapi ada kewajiban kuno yg tidak ingin kulakukan. Dan pemaksaan (pemberian doktrin dari pasangan walaupun terkesan pelan-pelan) membuat satu-satunya jalan adalah pemutusan hubungan. Contoh nya saya yg beragama Islam tapi tersiksa dg kewajiban berkerudung, jd saya hanya dapat mencintai pria yg mendukung style saya untuk tidak berhijab diluar rumah, karena itu hal paling nyaman yg bisa suami berikan untuk saya.

Sebut saja dia wanita metropolitan. Seni dan kebebasan berekspresi sudah menjadi satu dg dirinya. Mungkin ada satu contoh pribadi seperti itu dalam film; Eat, Pray, Love. Dia memang seperti itu jauh dari sebelum adanya film itu. Saya suka jalan menapak kaki menikmati alam dan keindahan, tapi lukisan abstrak seperti Picasso tidak saya sukai, saya juga membuang lukisan-lukisan amatiran yg jelek.

Banyak orang lain yg berjalan di jalur dan arah yg sama, tapi aku selalu tergelitik mencari jalur baru diantara semak dan pagar. Hidupku, tidurku tidak akan tenang sebelum melakukannya dan berhasil mendapatkan kebenaran dari jalur yg aku pilih sendiri. Aku tidak suka menjadi pelanggan setia, karena aku benci jika harus mengobrol dg orang yg aku bayar. Ya, bila aku punya tetangga, aku ingin punya hak untuk tidak menyapa mereka, maka dari itu aku perlu tinggal di lingkungan elite dimana para ibu-ibu tidak bergosip atau saling meminjam/memberikan barang. Saat aku ingin memberi, aku akan mencari fakir miskin/anak yatim piatu. Ya, aku merasakan tangis saat ayah meninggal, merasakan saat orang mengaku mencintai aku tapi menikahi orang lain sehari setelah ku tolak (((padahal itu cuma ujian untuk melihat apakah dia benar-benar tak bisa hidup tanpaku, nyatanya selama aku hidup selalu melihat orang yg mudah berpaling))), merasakan bagaimana mengais rejeki tanpa bantuan orang terdekat, merasakan jadi keset welcome hanya untuk bayaran sesuap nasi, merasakan orang meninggalkan aku saat aku bilang tak punya uang, merasakan harassment/abusement dari coworker/boss yg melihat aku tanpa pelindung (ayah, suami, pacar, kekayaan). Seperti itulah orang yg seharusnya dibantu.

Ini bukanlah keinginan kekanakannya. Ini adalah dirinya. Dunia ini yg menciptakan dirinya menjadi seseorang. Orang tua yg satu meninggal dan satunya lagi yg abusive, saudara yg selalu merasa iri hingga tak ingin membantu, teman yg mengintip isi tabunganku, pacar yg melihatku sebagai calon pencari nafkah keluarga, atasan yg memperlakukan aku seperti babu murahan, calon suami yg terus mencari cadangan wanita kaya yg bisa dipilih, mereka menjadi andil bagaimana aku memilih untuk percaya kepada siapa dan nyaman bersama siapa. Mereka yg membuat aku saat menonton drama dg happy ending jadi menangis.

 

Jadi lelaki, berkhayal lah di depan wanita. Dan kejarlah visi mu sesuai kemauanmu. Lihatlah, apa dia punya khayalan yg sama atau berbeda. Perpisahan karena berbeda adalah kebenaran. Karena dg menyamakan perbedaan maka akan menyakiti lebih dari satu org. Itu dzolim.

Ini adalah aku. Bukan untuk dikomentari. Hanya untuk di mengerti.

Advertisements

Comments are closed.